Kisah Dibalik Gadis Penghibur Dunia Malam

Banyak orang yang menyangkal atau tidak tahu kehidupan yang sebenarnya terjadi di sekitarnya. Di balik kilau dan gemerlap serta kebaikan yang ada, seringkali sisi gelap terselimuti kepura-puraan.

Hanya ada sedikit hasil mengamati lingkungan saja. di bawah ini ada cerita mengenai Kehidupan Gadis Penghibur Dunia Malam di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Kisah Dibalik Gadis Malam Indonesia

Hal seperti ini mungkin sering dianggap tabu dan disangkal keberadaannya. Namun, seperti itulah kenyataan yang ada.

Prostitusi di dunia malam memang merupakan bisnis termudah, tanpa harus menggunakan modal besar, serta menjanjikan.

Saat berusia 10 tahun, tujuh tahun yang lalu, lisa (nama samaran) sudah mulai mengenal pria. Saat itu ia diminta turun ke jalan oleh ibu kandungnya.

Sama seperti kakak perempuannya, ia diharuskan menyetor uang setiap hari. Cerita lisa. Tak terlalu ingat bagaimana ia pertama kali bergaul dengan pria di hiburan dunia malam.

“Sungguh saya tidak ingat. Saya hanya tak bisa melupakan ibu yang marah-marah saat saya pulang dengan tak membawa uang.” Ujarnya

Ia sering dipaksa, dipukul, hingga diseret keluar dari rumah karena tak pulang dengan hasil apapun. Karena banyak pengalaman di dunia malam. Lisa menjadi bos sejumlah ABG di Semarang.

Ia dipanggil dengan sebutan mami oleh anak buahnya. Sebagai mami muda, ia juga melayani jika ada pria yang mengajak.

“Biasanya saya tawarkan anak-anak, tapi pria sering memaksa agar saya yang menemaninya. Ya terpaksa untuk menyenangkan pelanggan.” Ujar lisa.

ABG yang menjadi anak buah nya tidak mangkal di mall atau di tempat hiburan seperti klub malam, diskotik, atau karoke. Mereka berkeluyuran di jalanan.

Lisa dengan wajah sensualnya ini mudah ditemukan di sekitar jalan Pahlawan atau bisa menghubungi lewat handphone.

Harga yang ditawarkannya bervariasi, antara Rp 100.000 sampai dengan Rp 200.000. Tarif di bawah itu juga disediakan olehnya.

Salah satu anak asuhnya yang terbilang paling kecil adalah Wati, 12 tahun. Menurut gadis kecil ini, dunia hiburan malam dapat lebih memberikan hasil yang besar dan cepat dibandingkan jika ia harus ngamen atau berjualan Koran.

Ia sudah dua tahun bekerja di dunia malam. Awalnya, di usia 10 tahun ia diperkosa tetangganya saat sedang tidur siang.

Kasus tersebut ia sampaikan kepada ibunya, ibunya malam memarahinya habis habisan. Belakangan ia tahu ternyata ibunya menerima sejumlah uang dari tetangganya itu.

Dari situlah wati mulai turun ke jalanan hiburan dunia malam. Oleh teman-temannya yang ia kenal di jalan, ia diberi cara mudah untuk mendapatkan uang adalah dengan melayani laki-laki.

Ternyata memang benar, baru beberapa hari berkeliaran di jalan, Wati sudah mampu membeli kosmetik, pakaian bagus, dan berbagai kebutuhan gadis belia. Ia bahkan sering diajak pergi ke diskotek atau nonton.

Gaya hidup ternyata menjadi faktor utama yang mendorong menjamurnya pelacurna ABG di Semarang. ABG-ABG kelas bawah bisa ditemui di daerah pemukiman kaum urban atau kaum miskin.

ABG jalanan di Semarang memang agak berbeda dnegan ABG kelas atas. Keinginannya untuk mecicipi dunia malam adalah penyebab utama mereka menjual diri.

Mereka juga bisa ditemui di sejumlah diskotek dan tempat hiburan lainnya. Mereka tak hanya mencari uang, diajak keliling dengan mobil mewah juga sudah cukup.

Penampilan mereka juga cukup mendebarkan, baju trendy beserta segala aksesoris, sepatu bermerk, HP mahal, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *